Home > ARTIKEL > –Labirin Imajinasi–

–Labirin Imajinasi–

Melalui kata-kata aku temukan cinta. Rasa itu datang tanpa aku duga, memasuki imajinasi yang aku ciptakan sendiri. Lama waktu tak menghentikan arah angin yang terus berhembus, ada gairah di tempat yang tak terduga. Sebuah gairah tentang sunyi yang tercipta dari rasa hati.
Melalui kata-kata aku temukan cinta. Gejolak yang begitu meruah. Aku tak bisa menahannya hingga senja datang menggenapi usia bumi. Tanpa isyarat kau datang menemui hati yang lama beku. Memulai perkenalan hanya dengan kata-kata. Barisan kalimat manis kau lontarkan tepat menuju pendengaranku. Samar, namun dengan kepastian kau mulai merengkuh hal-hal yang tak sempat kuduga.


Satu waktu di masa silam kau masuki mimpiku yang buruk. Memaksa masuk dalam dunia nyataku, namun urung. Kau tak kuasa mencairkan semua ego yang ada dalam diriku dan kau pun kalah sebelum berperang. Di lain hari ada ribuan kunang-kunang yang kau kirim untukku, sekadar menerangi malamku yang selalu diburu mimpi. Tak pernah kau bicarakan tentang hati yang penuh nestapa, namun aku tahu kau selalu dirundung kesedihan karena kau tak menemukan cinta dalam sisi kehidupanmu.
Lalu kau pun menawarkan rasa itu, pada malam pergantian tahun yang disemaraki bintang tanpa perayaan kembang api. Kau berikan ribuan bintang-bintang padaku, kau katakan padaku bahwa bintang-bintang itu serupa ribuan kunang-kunang yang pernah kau kirimkan padaku dulu, lalu memaksa aku untuk menjawab tanyamu, tentang rasa yang kupunya.
Semesta alam menanti jawabku, katamu. Namun apa yang dapat aku jawab sedang rasa yang kau bangun begitu maya. Cinta yang kau tawarkan hanya sebuah kata-kata manis tanpa bukti. Cinta adalah pembuktian. Bukan hanya kata-kata manis seperti yang kau umbar selama ini. Semisal laku yang kau perbuat untukku. Tapi selama ini aku tak mendapatkan apa yang kau tawarkan. Hanya berupa rentetan kata-kata: kosong tanpa makna. Jalani apa yang kau suka, jangan tanyai aku dengan pertanyaan bodoh tentang cinta.
Maka malam itu kau tinggalkan aku dengan rasa kecewa yang menembaga di dasar hati. Tak kuhiraukan karena aku yakin, jika cinta maka aku akan kembali. Masih selalu saja aku disibukkan dengan rasa yang lain. Begitu banyak cinta yang mengelilingiku, tanpa peduli aku reguk semua tanpa ikatan. Dan kehidupan mengalir tanpa batas. Sampai kau datang kembali dengan cinta yang sama. Sebuah cinta yang masih kupertanyakan.
Apa yang kau harap dari seorang lelaki sepertiku, aku bertanya. Banyak, katamu. Lanskap malam terbentuk ketika dengan jemawa kau jawab tanyaku. Dan tibi-tiba bintang-bintang itu menerangi jalanmu yang gelap. Akh… telingaku dapat mendengar semua bisikanmu. Suaramu yang mengalun mengantarkan aku pada suatu tempat. Tempat yang dipenuhi gairah.
Persinggahan yang aku diami, hanya sebentuk rumah duka bagimu. Namun kau selalu mencoba tersenyum dan bahagia. Sunyi yang aku tawarkan, menemanimu sepanjang waktu. Hingga tiba masa untuk kita saling membuka hati bahwa cinta datang melalui kata-kata.
Dan akupun menyetubuhi sunyi yang kau tawarkan, dengan imaji yang meruah tanpa peduli ini hanya sebatas khayalan. Dunia semu yang letaknya berada di dalam labirin imajinasi. Peta hidup yang takkan kau temui di dunia nyata, karena kita berbatas dimensi.
Cinta hadir melalui kata-kata. Ketika pertemuan menjelma hanya ada bisu yang kita bangun. Akhirnya kita tak lagi maya, sebuah tempat telah kota pilih untuk pertemuan kita. Tapi aku harus mereguk kecewa, karena hadirmu begitu sulit kumengerti. Kau hanya terdiam setelah kita bertemu. Kecewakah kau dengan pertemuan ini? Jika ya sebaiknya kita tidak bertemu. Namun, semua telah terjadi maka terimalah diriku sebagai cinta yang kau buru, sisi hati yang kau nantikan. Percayalah aku akan menerima, apapun keadaanmu.
Bicaralah karena kita bertemu bukan untuk saling bisu. Atau aku harus ungkapkan rasaku padamu. Cukuplah kehadiranku untuk buktikan cinta padamu. Dan setelah perpisahan kita hanya ada kenangan yang membeku. Ada harap yang kau bangun dalam diriku, serupa cinta abadi yang kini hendak aku bangun. Entah mengapa bisumu membuatku terpesona. Hanya ada sorot matamu yang banyak menuturkan cerita aku menjadi begitu yakin bahwa kau untukku.
Kemudian selang waktu tak tentu kita tak bertemu, hingga aku lupa wajahmu. Aku tidak salah bukan jika lupa wajahmu, bukannya ingin melupakan tapi karena kenangan yang kau berikan begitu beku, hingga aku lupa wajahmu.
Di mana kau? Tak lagi kujumpai….
Kedatangan senja di bibir pantai mengantarkan seseorang dengan sorot tajam matamu. Kaukah itu? Aku kenal indah matamu.
Lalu kau pun meminta maaf karena pergi tak mengabari. Alasanmu sepele hanya karena pekerjaan yang mengharuskan berpindah kota. Sekian lama menahan rindu kau datang kembali ke tempat awal pertemian kita, namun kau tak pernah menemukan aku. Tentu saja kau tak dapat menemukan aku, karena aku pun harus pergi meninggalkan kenangan yang kau berikan.
Mencari tempat lain agar aku tidak dihantui dirimu yang semakin aku cinta. Kini setelah pertemuan kita yang dihadirkan Tuhan, aku mencoba memastikan bahwa kau tak lagi bisu mengenai hubungan ini.
Kali ini, pada pertemuan ita yang kedua, kau dan aku saling mengikat hati, bahwa kita akan saling menjaga, menyemai rasa yang hendak kita tautkan suatu hari nanti. Kita pun memanjatkan doa: Tuhan, pertemukan kami dalam sebuah kebaikan, ciptakan ruang-ruang suci bagi kami.
Perpisahan kali ini kita berpepakat, kau sebagai kekasihku.
Kini aku kembali pada sunyi. Sebuah sunyi yang aku ciptakan demi menanti dirimu. Ketika gerak sunyi yang aku hadirkan melulu gelisah, itu pertanda betapa aku merindumu. Menggoreskan setiap waktu yang kulalui melalui kanvas putih. Masih dengan imaji, kulumatkan rindu pada lautan warna di hadapan. Mencipta dirimu yang kini kembali menghantui diriku dengan ketidakhadiranmu. Kau benar-benar membuatku tak berdaya, dan aku hanya seorang pesakitan yang tak dapat meraih kau, perempuanku. Aku tak dapat merengkuh dirimu, bahkan keberadaanmu aku tak tahu.
Jejak peristiwa harus aku lewati tanpamu. Perempuan yang mengenalkan cinta pada sebuah ruang kosong tanpa makna. Hanya kata-kata yang kita bangun sebelum pertemuan kita, dan kini setelah pertemuan, kembali ruang maya kau ciptakan. Tanpa pertemuan bagaimana aku dapat membangun sebuah cinta yang tulus tanpa kecurigaan. Bagaimana bisa?
Mengapa dirimu sulit kutemui? Dan akupun tak mau kehilangan cinta ini. Lalu aku pun ingat pada doa yang kita ciptakan bersama. Kini hanya tuhan yang dapat mempertemukan kita kembali, entah kapan.

Categories: ARTIKEL
  1. sadam7
    AM+00:00R01 14,2008 at 2:26

    alo bang wisnu, memasuki rumahmu membuat opaku seakan masuk mesin waktu dan berhenti di thn 70 di tgpinang, kala itu beliau selalu berlumuran kata-kata penuh warna, opa dulu sering main di jl. gudang minyak kerumahnya EkaNasril dan rumah Bang Ji (sutarji Calzoum Bachri) ngumpul ama Said Ibrahim, Ibrahim Sattah, Musaddiq n dll,

    salam ta’jim,
    daffa.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: