Home > Uncategorized > Selamat…Tinggal

Selamat…Tinggal

“Tak inginkah kau bergandengan tangan denganku di hari tua kita, merasakan pasir di kaki kita, menelusuri pantai, memandang ombak di depan mata kita- berdua, hanya berdua? Aku menginginkan itu, Qie. Aku Azka, hari ini memintamu kembali. Aku tidak berjanji kau 24 jam lamanya akan bahagia denganku selamanya. Tapi aku akan buktikan.”

Dan Azka benar-benar membuktikannya.

Terniang oleh wanita paruh baya itu pada kenangan itu, dan kini ia akhirnya bisa tersenyum karenanya.

Suasana kuburan sudah sepi. Wanita itu melangkah pelan menapaki tiap jengkal tanah yang masih basah oleh hujan.

Wanita itu pulang..pulang ke tempat di mana ia selalu berada, meski semua tidak akan sama seperti dulu lagi.

Tiga bulan setelah berakhirnya perjuangan suaminya melawan kanker, kini ia berjuang sendiri melawan kepedihan, ketakutan, dan kehilangannya itu.

Namun kini ia sudah bisa tersenyum, karna ia yakin akan satu hal.. Azka pasti sudah bahagia di sana.., batinnya.

Dan kenangan-kenangan masa lalu itu pun bergulir menyapanya…

**************************************************
Azka berseru dengan emosinya yang sudah membuncah mencapai klimaksnya, ”Yang kamu pikirkan hanya kebahagiaan Larry, bukan kebahagiaan dirimu sendiri ! Apakah aku kurang menyayangimu ??”

Qie tertunduk diam. Apa yang bisa kukatakan, aku memang hanya membutuhkan Larry, aku pernah mencintainya, dan masih mencintainya.., batin Qie perih.

Akhirnya Qie pun memberanikan diri untuk menjawab, “Tidak ada yang kurang dari kasih sayangmu, bahkan sudah lebih kasih sayang yang telah kamu berikan padaku.. Aku memang masih mencintai Larry..”

Azka menggeleng kepalanya tak percaya. “Tapi kamu harus mengerti, seorang pria takkan bisa jika menikahi wanita yang tidak cocok dengan keluarganya, Qie.”

Berada dalam keadaan yang tersudut, giliran emosi Qie yang membuncah, “Tapi yang aku nikahi itu Larry ! Bukan keluarganya, Azka ! Kamu tidak berhak atas kehidupanku ! Aku yang menjalaninya, bukan kamu ! Kenapa kamu selalu saja menghalangi kami !? Di luar sana kamu bisa mendapatkan banyak wanita yang lebih baik daripada aku !“

“Oke.. Baiklah jika akhirnya itu yang kamu katakan, tapi ingat satu hal dariku. Terlalu lama kau jalani itu maka kebosanan itu pun datang. Ingat itu, Qie. Dan ingatlah, aku masih dan akan terlalu bodoh lagi untuk menampung tangismu jika Larry masih menyakitimu lagi. Aku akan pergi, tapi aku pasti kembali.”
Qie tertunduk lesu. Azka, maafkan aku, bukan maksudku menyakitimu. Tapi aku tidak mungkin membohongi perasaanku sendiri. Yang aku mau hanyalah seorang Larry.. Maafkan aku, Azka.. Maafkan aku.

Namun kata-kata maaf itu hanya sampai di ujung lidah, Azka akhirnya berlalu.

Sudah beberapa minggu ini sosok Azka tidak pernah muncul lagi di sana, di taman itu tempat di mana dia dan Azka sering bertukar cerita dan bercanda.

Tiba-tiba Qie merasa kehilangan, sudah berulang kali ia menghubungi nomor telepon rumah Azka namun nihil, nomor yang dituju lagi-lagi tidak ada yang menjawab.

Kamu di mana, Azka..? Aku sendiri di sini.., pekik Qie pilu dalam hati.

Masih terngiang olehnya pernyataan yang dilontarkan Azka saat itu.

..terlalu lama kau jalani itu maka kebosanan itu pun datang…..

Dan sepertinya Qie memang harus membenarkan pernyataan Azka ini, karna tiba-tiba saja kehilangan akan Azka begitu besar, yang dibarengi dengan kebosanan menanti jawaban Larry yang tak kunjung ia terima.

Larry masih belum bisa memberi kepastian yang jelas akan hubungan mereka selama ini.

Masih dibayang-bayangi dengan keberadaan abangnya yang otoriter itu, Larry tidak punya banyak pilihan selain mematuhi abang yang membesarkannya sejak orangtua Larry tiada 22 tahun lalu.

Larry pernah mengungkapkannya pada Qie, “Posisiku sulit. Kita tak mungkin bisa menjalaninya. Abangku, kau tahu dia seperti apa. Dia yang menjadi nadi keluargaku selama ini. Dia yang menentukan apa yang boleh dan tidak kami lakukan. Maafkan aku, Qie. Sebenarnya aku sangat menyayangimu..”

Saat itu Qie hanya bisa terdiam mendengar pernyataan Larry– yang menurut Qie adalah sebuah pernyataan yang terlalu lemah dan tidak berdaya untuk diungkapkan seorang pria.

Tapi ini memang benar, Larry terlalu lemah. Tidak tegas.

Apakah Qie harus selamanya menerima kelemahan Larry yang selalu tidak berdaya menghadapi abangnya ?? Qie tidak sanggup lagi.

Beberapa bulan setelah Azka tidak pernah muncul lagi, Qie akhirnya memutuskan untuk melanjutkan hidupnya lagi.

Sampai pada suatu hari, Azka muncul di depan rumahnya. Qie hampir tidak mengenali pria itu andai Azka tidak memanggil namanya.

“Qie..”

Sosok Azka yang tegar itu kini begitu lain. Wajahnya kuyu. Matanya tidak bersinar ceria seperti Azka yang selama ini ia kenal. Mengapa bisa seperti ini..

Tiba-tiba rasa sesal kini menhampiri jiwa Qie. “Azka..ke mana saja kamu selama ini..Sudah lama aku mencarimu..,Azka..” air mata menetes jatuh dari pelupuk mata Qie.

Tanpa bisa menahan kerinduannya, refleks, Qie menjatuhkan dirinya pada dekapan Azka. Azka yang tadinya hanya bisa tersenyum pahit kini menangis penuh haru.

Kini, Qie baru menyadari siapa yang sesungguhnya orang yang selama ini mencintainya. Tanpa kehadiran waktu yang menyadarkannya, Qie mungkin masih terbelenggu oleh cinta kamuflasenya oleh Larry—yang ternyata hanyalah sebuah janji kosong belaka.

Kini, di hadapannya ada seorang Azka. Qie merasa tidak perlu lagi menunggu kepastian Larry.

Dan bisa dipastikan saat itu, Qie telah menemukan cinta sejatinya.

Belakangan Larry hadir membawa sepasang cincin untuk melamarnya.

Dengan cintanya yang kini bersemi untuk Azka, dengan tegas Qie menolak permintaan Larry.

“Kamu egois, Qie.” Hanya itu respon Larry.

“Aku tidak mengelak bahwa aku egois. Jadi selanjutnya apa ? Masihkah kau berharap untuk kita benahi kembali ?“ Qie menyahut dengan tatapan penuh tanya.

“Aku tahu aku salah. Tapi bukan begini caranya untuk menyambut kedatanganku. Aku benar-benar serius sama kamu, Qie.. Tolong mengertilah..aku memang salah..tapi kini aku sudah berhasil meyakinkan abangku.”

“Ya, yang kamu butuhkan bukanlah seorang pendamping tapi seorang abang. Apapun yang abangmu katakan, sebaiknya jangan ditentang. Kamu harus respek padanya. Ada saatnya sebuah hubungan harus berakhir karena salah satu pihak tidak sejalan atau salah satu pihak menentang. Jika abangmu dulu tidak menyetujui, sampai kapanpun dia tidak akan pernah. Dendamnya pada keluargaku tidak akan berakhir. Asal kau tahu saja, semua karna abangku yang mengubahnya menjadi skeptis seperti itu. Bukan salahmu.”

“Aku tahu itu. Dan sekarang semuanya sudah berakhir, kita bisa benahi lagi.”

“Bukankah kau bahagia dengan abangmu ? Azka benar-benar menunjukkan padaku hatinya yang sesungguhnya. Maafkan aku, Larry… Maafkan aku..”

Qie segera beranjak, meninggalkan Larry dalam kepedihan. Dan itulah terakhir kalinya mereka berjumpa.

Qie dan Azka dalam kurun waktu beberapa bulan itu kemudian pindah ke luar kota.

Puluhan tahun telah berlalu, anak-anak mereka pun telah beranjak dewasa. Sampai pada akhirnya dokter memvonis Azka menderita kanker otak.

Saat-saat itulah perjuangan terberat Azka bergulat melawan penyakitnya. Sel-sel kanker itu kian menggerogoti tubuhnya.

Penyakitnya kambuh setiap waktu, menyerang sistem kekebalan tubuh Azka, tanpa memberi sedikit celah pun bagi Azka untuk bertahan.

Qie sudah menjadi terbiasa terbangun di tengah malam untuk menemani Azka yang terbangun karna rasa mual yang berkelanjutan.

Penyebaran sel kanker begitu cepat, Azka sering mengalami pusing dan penglihatannya menjadi semakin tidak jelas.

“Qie, kamu harus kuat..Jika suatu hari nanti aku tiada, kamu tetap harus hidup untuk mendampingi anak-anak kita…” suara Azka terdengar semakin melemah.

Pada hari terakhirnya, sebelumnya terjadi laju pernafasan Azka yang kian cepat sebelum kemudian melemah.

Ketika Qie meraba denyut nadi Azka, Qie tahu saatnya sudah tiba. Ternyata kemoterapi tidak dapat sepenuhnya menolong.

Qie tetap tegar, tangisnya terbenam bersemayam di dalam hatinya.

Ia harus tegar, sama tegarnya seperti Azka yang bertahun-tahun bergulat melawan penyakitnya.

Ia harus tegar, sama tegarnya seperti Azka yang tetap tersenyum meski penyakit itu telah membatasi dirinya.

Pada siang yang mendung itu, dihadiri sanak keluarganya, mereka mengantarkan kepergian Azka.

Matahari telah beranjak. Dan mendung kini menyelimuti.

Namun …

Azka, pelukan hangatmu kan senantiasa mengiringi hidupku..mengantarku dalam tiap detikku untuk selama-lamanya..

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: