Home > Uncategorized > CINTA TUMBUH DIUJUNG DUKA

CINTA TUMBUH DIUJUNG DUKA

    Ah seandainya dia tak menolak laki-laki itu dulu, mungkin tak terjadi begini. Entahlah alasan apa dia menolak, laki-laki itu juga kurang jelas. Entahlah mengapa setiap hari laki-laki itu teringat akan dirinya saja dan setelah mengingat tiba-tiba kebencian itu datang dengan sendirinya. Pada suatu hari laki-laki itu sedang asyik-asyik dalam renungannya di kala dia sendiri tiba-tiba HP nya berdering dan dilihatnya ternyata dari wanita itu lalu dia angkat.


         “Halo, Assalamualaikum” katanya
         “Walaikumsalam” kata laki-laki itu
         “Hari”
         “Ya ini siapa ?” tanya laki-laki itu pura-pura tidak mengenali suaranya.
         “Ini aku Mona” jawabnya
         “Oh Mona ya ada perlu apa kok tumben menelepon?” tanya laki-laki lagi
         “Nggak ada apa-apa kok, mau tanya aja bagaimana keadaanmu dan ada acara nggak hari ini? keluar yuk.
         “Kabar aku baik, oh tidak ada acara kok, tapi aku kurang enak badan sekarang. Tetapi sekarang aku sedang di toko dan apabila ada perlu denganku kamu bisa datang aja ke toko ya.” Kata laki-laki itu dengan alasan sedikit menolak ajakannya.
         “Baiklah” katanya sambil menutup pembicaraan.
         Setelah beberapa jam, dia datang dengan membawa satu bungkusan entah apa isinya mungkin makanan atau minuman. Lalu dia masuk dan duduk. Tiba-tiba dia berkata.
“Sangat disayangkan sekali hari ulang tahunku saja kamu tak ingat, apa salahnya mengucapkan saja melalui SMS kalau tak memberi kado?” kata Mona
        Semula laki-laki itu terkejut dengan perkataan wanita dan menoleh kepada wanita itu sebentar dan setelah dia palingkan muka lagi darinya lalu laki-laki menjawabnya:        
“Maafkan aku, bukannya aku tak ingat hari ulang tahunmu, tetapi…..!” jawab laki-laki tu
“Tetapi apa?” tanyanya lagi
“Tetapi ada beberapa hal yang aku hadapi waktu itu” jawab laki-laki itu
“Apa itu” tanyanya lagi
“Yang pertama, pada saat itu aku lambat laun ingin melupakan dirimu, yang kedua waktu itu tak mempunyai uang untuk membeli sebuah kado, ketiga pada waktu itu aku tidak mempunyai pulsa untuk sekedar mengucapkan saja, keempat aku ketiduran pada saat itu.” Jawab laki-laki dengan berbagai alasan.
“Lah alasan” kata wanita itu “berarti kamu sudah membenci aku, gitu?” Tanyanya lagi
“Bukannya aku ingin membencimu, tetapi itu juga adalah salah mu sendiri mengapa waktu itu aku yang mencintaimu, kamu malah tak tahu menahu tentang itu” jawab laki-laki itu
“Ya, mana aku tahu waktu itu kamu kan nggak bilang”
“Biar bukan aku yang bilang, tetapi kamu malah tidak mengakuinya”
“Kalau begitu maafkan aku. Aku tak tahu harus berbuat apa waktu itu, aku sangat benci sekali orang yang mempercanda guraukan ku,”
“Oh jadi kamu membenci aku juga?”
“Bukan begitu maksudku”
“Lalu apa?”
Lalu mereka saling membisu seribu bahasa dan entahlah beberapa saat mereka membisu lalu tiba-tiba ada seseorang yang ingin berbelanja. Setelah orang itu pergi lalu wanita itu bertanya kepada laki-laki itu.
“Ri, boleh aku bertanya kepada dirimu?” tanyanya
“Sejak kapan aku melarang kamu bertanya kepada diriku dan apa yang kamu tanya kepada diriku?” laki-laki itu balik bertanya
“Apakah sekarang kamu masih mencintai diriku” tanyanya lagi.
“Untuk apa kamu menanyakan itu pada diriku?”
“Tolong jawablah” dia memohon kepadaku
“Baiklah”
Kata laki-laki itu lalu laki-laki diam sejenak dan menarik napas dalam lalu laki-laki berkata lagi.
“Iya aku memang mencintai dirimu, itu dulu tetapi sekarang….” jawab laki-laki.
“Tetapi sekarang apa?” tanyanya lagi
“Sekarang cinta itu hilang dibawa derasnya angin yang saat ini tidak dapat aku ambil kembali dan tumbuhlah kebencian yang amat mendalam dari diriku kepadamu” jawab laki-laki itu
“Lalu mengapa kamu SMS dan mengirim satu surat kepadaku” tanyanya lagi
“SMS?, Surat?” Tanya laki-laki itu agak terkejut.
“Ya SMS yang sering kali masuk ke dalam HPku kadang-kadang dari nomormu dan kadang-kadang dari nomor yang lain tetapi atas namamu dan surat datang sewaktu kamu pindah ketempat ini.” Jawab wanita itu
“Aku memang cinta kepadamu tapi aku rasa aku belum pernah mengirim SMS kepada dirimu apalagi surat yang kamu maksud dan lebih baik aku memendam perasaanku dari pada aku mengerjain kamu.” Jawab laki-laki itu benar-benar tekejut.
“Lalu siapa yang mengirim.” tanyanya lagi.
“Mana aku tahu. Oh ya mungkin salah seorang sepupuku yang mengjodohkan kita.”
Setelah itu mereka diam kembali entah apa yang ada di dalam pikiran mereka masing-masing dan wanita itu menoleh kepada laki-laki sebentar lalu dia perpaling lagi dan kadang-kadang beradu pandang.
“Kalau boleh tahu apa isi SMS yang sering masuk ke dalam HPmu dan apa isi surat itu?” tanya laki-laki lagi
        Lalu wanita itu melihatkan isi SMS itu dan isi surat itu setelah laki-laki itu membacanya dan laki-laki itu tersenyum-senyum dengan sendiri.
“Mengapa sih kamu tersenyum?” tanyanya
“Nggak ada apa-apa kok”
“Lalu mengapa kamu tersenyum?”
         “Semula aku merasa memang cinta kepadamu tetapi aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk supaya kamu menerima ku sebagai kekasih tetapi nyatanya…….. ah sudahlah.” Kata laki-laki itu
“Maafkan aku Ri, bukannya aku menolak cintamu pada saat itu tetapi aku sedang kuliah.” Katanya
“Apa bedanya dengan sekarang, sekarang kamukan masih dalam kuliah? Mengapa kamu tidak bilang kalau kamu tidak mau pacaran sebelum kuliahmu habis kan aku bisa menunggu mu sampai kuliahmu habis dan kamu malah berbohong kepada ku bahwa kamu ada yang punya tetapi nyatanya kamu memohon kepadaku supaya aku bisa menerima dengan tangan terbuka setelah selama ini kamu caci maki aku dan kamu marah-marah kepadaku dibelakangku. Ya baru ingat waktu itu sepupuku datang ke tempatku dan entah beberapa saat HPnya terdengar pesan masuk lalu aku yang segera melihatnya malah pesan dari nomor kamu yang berisi kamu memperjelek-jelekan aku dan malah lebih sakitnya lagi kamu malah tak mengenaliku.” Kata laki-laki itu panjang lebar.
“Memang aku sudah ada yang punya waktu itu tetapi sekarang dia malah menyakitiku dan berpaling dariku.” Katanya
“Bisa dipercaya ngak, lalu sekarang aku adalah tempat pelarianmu gitu supaya kamu bisa membalas sakit hatimu kepadanya atau aku sebagai umpan supaya kekasihmu itu bisa membuat dia cemburu gitu” kata laki-laki itu
“Bukan begitu, Ri” kata wanita tersebut
“Lalu apa” tanyanya lagi
Lalu dia diam seribu bahasa dan tidak bisa menjawab pertanyaan laki-laki tersebut dan tiba-tiba laki-laki itu mendengar isak tangisnya yang mungkin selama ini sudah tidak tertahan olehnya.
“Astafirullah, aku telah membuat orang yang selama ini aku cintai menangis” kata laki-laki dari dalam hatinya
“Kamu kejam sekali kepada ku Hari” kata Mona
“Sekejam-kejam aku lebih kejam lagi kamu” jawab laki-laki tersebut
“Sebab dulu sudah berbagai cara aku untuk meraih cintamu tetapi kamu selalu saja menolakku, biarpun tidak satupun aku yang mempercandaguraukanmu tetapi malah aku yang kena caci makianmu” sambung laki-laki itu lagi
Lalu laki-laki berkata lagi kepadanya setelah beberapa saat terdiam :
“Maafkan aku Mona, aku bermaksud membuatmu menangis dan aku meminta maaf sekali lagi untuk tidak bisa lagi menerimamu untuk menjadi kekasihku sebab aku akan segera menikah dengan kekasih pertamaku dulu.” Jawab laki-laki dengan berbohong kepadanya.
“Menikah? Kapan?” Tanya wanita itu dalam ratapan tangisnya
“Aku akan menikah sebulan lagi” jawab laki-laki itu juga berbohong.
Lalu setelah itu mereka saling berdiam diri lagi dan apa yang mereka pikirkan. Lalu Mona ingin beranjak pulang.
“Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu” katanya dalam keadaan menangis
“Tunggu dulu kamu tidak bisa pulang dalam keadaan menangis begini apa kata orang nantinya kalau akulah menyebabkan kamu menangis bisa-bisa aku kena serang oleh orang tuamu.”
“Biarkan saja” katanya sambil berlari
Lalu laki-laki itu mengejarnya sampai dapat dengan terpaksa wanita itu menghentikan langkahnya sementara orang di luar telah banyak melihat pertengkaran mereka, lalu laki-laki itu berkata:
“Kalau kamu sayang kepada diriku jangan lakukan itu!”
Dengan terpaksa dia berhenti dan duduk kembali dan entahlah beberapa saat setelah isakan tangisnya habis baru dia di perboleh pulang dan sambil berbisik padanya :
“Maafkan aku Mona bukannya aku menyakiti hatimu” kata laki-laki itu berbisik.
Lalu laki-laki itu melihat dia menganggukkan kepalanya. Dan setelah laki-laki itu mengantar dia ke sampai atas mobil. Lalu laki-laki itu berpikir kembali untuk apa sih dia menolak orang yang selama ini dia cintai dan sampai menangis lagi.
****
        Setelah kejadian itu, wanita itu tak pernah lagi melihat laki-laki itu dan entah beberapa minggu laki-laki itu tak ada di tempat dia bekerja. Setelah itu ada seorang perempuan yang datang kepadanya di salah satu kampus di mana dia kuliah dan ternyata itu adalah Sutri yang selama ini yang mengerjain Mona.
“Hei kamu Mona, kan” tanya Sutri
“Ya aku Mona dan kamu siapa dan dari mana kenal dengan aku” tanya Mona
“Ya aku sudah mengenalimu sebelum kamu bertengkar dengan si Hari dan aku sudah tahu permasalahan yang kamu hadapi selama ini. Kamu baru saja di tolak oleh si Hari kan dan kamu mengatakan semua yang ada dalam SMS itu dan surat itu kan dan si Hari manjawab itu bukan kerjaannya malah dia tidak tahu permasalahan yang kamu hadapi kan?”tanya si Sutri
“Iya benar” jawab Mona
“Sebenarnya si Hari itu mencintaimu dan selama ini dia memendam perasaannya dan akulah yang merasa kasihan kepadanya dan untuk itu aku mepercanda guraukanmu dan berusaha untuk Hari demi mendapatkan cintamu tapi kamu malah menolak di belakangnya dan tanpa sepengetahuannya kamu malah mencaci makinya.”
“Jadi selama ini Hari tidak tahu apa isi dari SMS dan Surat itu?” Tanya Mona
“Iya benar tapi surat yang aku kirimkan dia tahu pada halaman yang keduanya saja karena dialah yang mendatagani surat tersebut. Pernah dia bertanya kepadaku mana halaman pertamanya dan apa isinya ada nggak kata-kata yang memperjelekkan ku” kata Sutri.
“Lalu apa yang kamu jawab.” tanya Mona
“Lalu aku menjawabnya dengan senyuman dan berkata tenang sajalah tidak akan pasti kamu akan diterimanya dengan tangan terbuka, tapi nyatanya kamu malah menyakiti hatinya dan dia menjadi marah kepadaku sebab aku yang mempercanda guraukanmu tapi dia yang kena batunya” Jawab Sutri
“Kalau begitu aku meminta maaf”
“Jangan bagitu kamu tidak salah kok aku yang seharusnya aku meminta maaf kepadamu” kata Sutri.
        Setelah itu mereka berdiam diri dan apa yang berada dalam pikiran mereka masing-masing dan lalu timbullah pertanyaan dari Mona:
“Hey ngomong-ngomong apa benar Hari akan segera menikah” tanya Mona
“Siapa yang bilang?”
“Dia”
“Itu adalah tidak benar! sebab si Hari belum ada merasakan yang nama pacaran”
“Lalu siapa itu Siska” tanya Mona
“Oh Siska itu adalah kemenakan dari ayahnya yang memang dijodohkan kepada dia namun dia tak mau karena Siska tersebut suka keluyuran dan keras kepala.” Jawab Sutri.
“Lalu yang di Pariaman itu”
“Itu adalah anak dari mamaknya dan sekarang dia sudah meninggal dunia.”
“Oh gitu, lalu katanya dia mempunyai kekasih di kampus ini dan kuliah di jurusan FISIP?” tanya Mona lagi
“Memang benar dan itu adalah aku, kami memang sudah berpacaran tapi tidak ada kecocokan bagi kami, setelah itu kami bubar tetapi setelah bubar kami malah sering bertukar pendapat dan saling curhat-curhatan.” kata Sutri panjang lebar.
“Oh ya dari mana kamu kenal dengan Hari dan dari mana kamu tahu semuanya” tanya Mona
“Sebenarnya sih saya juga kemanakan papanya yang tidak kontan berarti anak saudara sepupu papanya dan itu aku ketahui semua dari dia certain.
“Jadi kamu dengan si Siska beradik kakak sepupu?”
“Ya benar.”
“Oh ya apa benar si Hari mendapat penyakit yang ganas yang menyerang tubuhnya.”
“Oh yang itu aku juga kurang jelas tetapi aku pernah dengar dari Kakakku Siska dan sampai sekarang kurang pasti”
“Oh gitu, hey ngomong-ngomong si Hari kemana ya sudah satu bulan ini aku tak melihatnya sejak kami bertengkar itu sampai sekarang” Tanya Mona
“Aku juga tak pernah melihatnya sudah sebulan ini aku juga tak melihatnya bahkan tokonya tutup”. Kata Sutri
Setelah itu mereka terdiam berpikir bagaimana caranya untuk bertemu sama cowok itu.
“Oh ya coba di telepon ke nomor HPnya”. Mona angkat bicara
Lalu dicoba oleh Sutri menghubungi nomor HP cowok itu lalu berkata :
“Tidak Aktif”
“Coba ke nomor telepon rumahnya” kata Mona dan dicoba oleh Sutri yang mengakat papanya di Hari.
“Hallo”
“Ya . hallo ini siapa?” tanya papanya Hari
“Paman ini saya Sutri”
“Oh Sutri, apa kabar?”
“Baik Paman, begini Paman aku ingin bicara dengan Hari, apa Harinya ada paman?”
“Oh. Maaf Hari lagi pergi, mamamu nggak ngomong?”
“Nggak! Memang Harinya pergi ke mana ya paman?”
“Hari pergi ke Ujung Tanah”
“Ujung Tanah, kapan kembalinya paman?”
“Ya. Mungkin dia lansung ke Balik Papan dan langsung ke Lahat”
“Oh ya kapan kembali ke Padang ini paman?”
“Mungkin dia tidak akan kembali lagi”
“Oh ya kalau gitu makasih ya Paman” kata Sutri ingin menutup telepon
“Oh tunggu, kamu kan kuliah di UBH”
“Lalu….Paman?” tanya Sutri kurang mengerti
“Lalu kamu kenal nggak yang namanya Mona?”
“Kenal Paman malah sekarang dia ada bersama saya”
“Oh baguslah kalau begitu”
“Memangnya ada apa Paman?” tanya Sutri
“Ya, sebelum Hari pergi dia menitip surat kepada Paman katanya untuk Mona dan paman selama ini sudah berusaha mencarinya tetapi tidak paman ketemui alamatnya Mona.”
“Kalau begitu kami akan segera ke sana Paman” kata Sutri
“Lebih cepat lebih baik”
“Ya kalau begitu saya sudahi dulu ya Paman Assalamu’ alaikum”
“Walaikum salam”
Setelah telepon di tutup lalu Sutri bicara kepada Mona:
“Dia pergi ke Ujung Tanah”
“Ujung Tanah?”
“Ya dan langsung ke Balik Papan dan langsung ke Lahat”
“Kapan dia kembali?”
“Kata paman aku dia tidak akan kembali lagi dan menitip surat kepada paman untuk kamu”
“Pantasan tokonya tutup lalu mengapa dia ke sana dan kapan perginya?”
“Aku kurang tahu tadi tidak aku tanyakan”
Lalu mereka berdiam dan berpikir. Dan setelah mendapat ide lalu Mona yang bicara:
“Bagaimana kalau sekarang aja kita ke tempat Pamanmu itu?”
“Baiklah kata Paman ku lebih cepat lebih baik”
“Aku semakin berdetak hati ada apa dengan si Hari jangan-jangan….. ah sudahlah mungkin itu perasaanku saja.”
Setelah itu mereka berdiam diri dan pergi menuju ke tempat cowok yang di selama ini di carinya tetapi tidak bertemu. Dan setelah sampai di sana lalu Mona dan Sutri membaca salam:
“Assalamu’alaikum” kata mereka berdua
“Wa ‘alaikum salam mari silahkan masuk” kata Mama dan Papa si Hari.
Lalu mereka berdua masuk dan duduk. Setelah itu Mamanya Hari menyiapkan mereka minuman :
“Sut….kalau mau makan, makan aja ke dalam dan ajak si Mona ya” kata mama si Hari.
“Baik, Bi. Terimakasih kami sudah makan kok tadi di kampus.”
Lalu Papanya si Hari bicara pada Mama hari :
“Bu…”
“Ya Pak”
“Ambilkan surat titipkan si Hari untuk si Mona ada di laci meja kerja Bapak”
“Baik. Pak”
Lalu Mama si Hari pergi mengambil surat yang dimaksudkan suaminya itu dan menjelang mamanya Hari mengambil suratnya lalu Sutri bertanya kepada Papanya si Hari:
“Oh ya kalau boleh tahu kapan dia pergi paman” tanya Sutri
“Sebenarnya si Hari tidaklah pergi ke luar kota lalu….”
“Lalu kemana dia Paman….” tanya Mona.
“Sebenarnya Hari sudah sebulan di rawat di Rumah Sakit dan kata dokter dia medapat penyakit yang paling ganas menyerang tubuhnya tetapi setelah beberapa minggu setelah dia masuk ke Rumah Sakit nyawa tidak tertolong lagi dan akhirnya dia pergi dengan tenang tetapi seminggu dia masuk rumah sakit dia pernah bilang kalau dia telah tiada tolong berikan surat ini kepada yang nama Mona yang sama kuliahnya dengan Sutri dan tapi setelah seminggu kepergian si Hari paman sudah berusaha mencari Mona kemana-mana tapi nggak ketemu dan akhirnya untung Sutri menelpon dari situlah paman bisa bertemu dengan Mona” kata papa Hari
“Pantasan dua bulan yang lalu aku mendapat SMS dari Siska dan mengatakan bahwa si Hari mendapat penyakit yang ganas” kata Mona
“Memang. Sebelum si Hari masuk ke Rumah Sakit kami semua sebenarnya belum tahu tetapi setelah tetangga yang bersebelahan toko dengan si Hari memberitahukan bahwa Hari masuk ke Rumah Sakit dari situlah kami semua mengetahuinya” kata papa Hari
“Jadi selama ini Hari cuma memendam penyakitnya dan dari mana Siska tahu si Hari mendapat penyakit itu”
“Ya begitulah kenyataannya, mungkin Hari pernah suatu kali pingsan di depan Siska karena melihat ulah Siska dan di bawanya ke Rumah Sakit mungkin dari situlah Siska tahu dan tidak diberitahunya kepada kami sebab dia telah berjanji kepada Hari dia tidak akan memberitahu hal ini kepada kami sebab dia takut kami akan Shock mendengarkannya. Kamu kenal ya dengan Siska?” tanya papa Hari setelah menjelaskannya.
“Sebenarnya aku tidak kenal dengan dia dan aku cuma mendapat SMS dari Siska bahwa Hari mendapat penyakit ganas dan minta tolong kepadaku untuk menjaga Hari dengan baik. Tapi semula aku kurang percaya sebab waktu itu belum ada fakta”
“Ya benar kami sekeluarga sebenarnya juga ingin menjodohkan si Hari dengan Siska tetapi Hari nggak mau setelah melihat tingkah laku Siska yang suka keluyuran dan mau menang sendiri”.
Setelah beberapa saat mereka berdiam mamanya si Hari kembali dan di serahkannya kepada papanya si Hari dan papa Hari menyerahkan sepucuk surat kepada Mona:        
“Ini, Mona” kata papanya Hari.
“Makasih Paman”
Setelah itu di bukanya surat itu oleh Mona yang sudah penasaran dari tadi lalu dibacanya dengan seksama :
                                                         Padang, 15 Maret 2005
Kepada Yth
Monaliza
Di
        Tempat
Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.
Pertama-tama aku mendo’akanmu dan keluargamu dalam keadaan sehat wal ‘afiat di bawah lindungan Allah SWT. Amin.
        Entah mengapa dada ini terasa sesak dan pinggang ini terasa ngilu sekali. Ini ku rasakan sejak aku berhenti di salah satu perusahaan kayu dulunya. Atau mungkin penyakit yang ganas menyerang di dalam tubuhku. Tetapi dulunya tidak begitu terasa sebab dulu rasa sakit itu kadang-kadang hilang dan kadang-kadang muncul kembali. Malah sekarang begitu terasa lebih sakit dan lebih sesak dan sempit sekali.
        Pernah sekali aku pergi ke dokter yang pernah merawatku dulu (dokter pribadi) katanya aku cuma mendapat penyakit sesak napas biasa (asma) dan pinggangku cuma sakit pinggang biasa. Tetapi setelah meminum obat, penyakit ini hilang sebentar saja tetapi entah beberapa menit rasa sakit itu muncul kembali malah lebih sakit dari sebelum minum obat tadi. Orang tua dan keluarga belum tahu aku menderita seperti ini.
        Memang dari kacil aku sudah sakit-sakitan. Waktu kecil aku mendapat penyakit dan hampir saja nyawaku melayang. Untunglah para dokter-dokter itu menyelamatkanku dan pada umurku yang ke delapan belas tahun aku mandapat penyakit usus buntu dan dioperasi dengan selamat. Entahlah mungkin sudah banyak penyakit yang menyerang dan hinggap di dalam tubuhku. Tetapi aku selalu tabah dan sabar dalam menjalani hidupku ini.
Tak tahulah mungkin umurku tak panjang lagi dan tinggal hitung perhari, perbulan atau pertahun. Karena semakin hari semakin bertambah sakit di dalam tubuhku ini. Oleh sebab itu sebelum nyawaku dicabut oleh malaikat maut aku meminta maaf yang sebesar-besarnya hanya melalui surat ini dan tolonglah beri maaf dan ampunan atas kesalahan yang pernah aku lakukan padamu dan keluargamu agar aku tenang dalam menghadapi azab dalam kubur. Walaupun kita tak pernah bersatu sebab kamu putri khayangan yang hatimu keras bagaikan batu karang sudah berbagai kali dan bermacam cara untuk menerobos hatimu tetapi selalu saja gagal atau aku cuma seorang bangsawan biasa yang tak berpendidikan atau aku tidak kaya dan cuma hidup sederhana sebab itu kau menolak dan mencaci maki secara halus dan dengan cara apa lagi aku harus mendapat cinta sejati darimu? Tolong sebutkanlah supaya aku bisa meraih bintang-bintang di langit kelak.
Apabila aku telah tiada tolonglah beri aku do’a agar dosa-dosaku diampuni oleh Allah SWT. Bukannya dulu aku berniat untuk menyakiti hatimu tetapi malah sebaliknya aku ingin mencari cinta sejati di ujung usia yang sudah renta dan sakit-sakitan, itu yang aku lihat ada pada dirimu tetapi kamu malah mencaci maki dan menolakku secara diam dan halus.
Apabila aku ada janji padamu tolonglah janji itu dilupakan saja sebab aku tidak bisa menempati janjiku padamu. Apabila aku telah tiada nanti, aku berpesan kepada mu jagalah dirimu pengaruh setan yang menggoda.
Aku tahu kamu telah mulai membenciku itu yang ku lihat dari raut wajah yang kurang menyenangkan kepadaku dan tolonglah jawab apa salahku padamu mungkin aku banyak menyusahkanmu dan keluargamu sebab itu kamu selalu saja marah kepadaku padahal aku tidak ada niat untuk menganggumu lagi.
Jangan pernah kamu meneyesali apa yang telah terjadi dan yang berlalu biarlah berlalu. Suatu saat kamu pasti akan menemukan seseorang yang baik dan setia untuk pendamping hidupmu tidak seperti diriku yang selalu saja mempermainkan wanita (termasuk kamu). Seandainya kamu mendengarkan kisahku dari kecil hingga dewasa mungkin kamu heran dan merasa sedih dan bertanya-tanya mengapa aku selalu saja tenang padahal telah banyak yang membebaniku. Tetapi sudahlah tidak perlu dibahas dan aku selalu tabah dan sabar dalam menjalani hidup ini dengan apa adanya. Sebab hidup ini hanya Allah SWT yang mengatur.
Aku selalu saja heran mengapa hanya kamu saja yang selalu saja terpikirkan dan aku bangga-banggakan padahal aku telah mempunyai seseorang yang setia padaku. Kami sudah berpacaran sejak sebelum aku mempercanda guraukanmu tepatnya setelah kematian pacarku yang kota lain. Seandainya dulu kita tak bertemu mungkin tak seperti ini jadinya. Waktu itu aku cuma tes dan bercanda doang kok, tetapi sekarang apalah jadinya hati ini tidak bisa ditipu. Dimulut aku berkata tidak tetapi entah mengapa hati dan pikiranku selalu ada kamu. Aku tak tahu harus bagaimana untuk melupakan dirimu, dan untuk melupakan dirimu sungguh sulit sudah berbagai cara dan berbagai macam kegiatan lakukan untuk melupakan dirimu tetapi aku tak sanggup.
Biarlah suatu saat di akhirat kelak kita di pertemukan dan dipersatukan oleh Allah SWT.
                                                                        Hormat Saya

                                                         Hari Purnama Syakti

Setelah membaca surat itu lalu Mona menangis dengan hati yang terasa penyesalan
“Mengapa ini cepat sekali berlalu, mengapa penyesalan selalu datang belakangan maafkan aku Hari mungkin dulu seandainya aku menerima dan percaya pada omongan orang mungkin aku bisa menjagamu dengan baik dan mungkin aku selalu ada di sampingmu saat kepergianmu aku memang salah dan telah berdosa kepadamu dan aku selalu mendo’akan agar engkau tenang dan bahagia di alam sana amin” kata Mona dalam hati sambil hatinya teriris.
Sementara itu mereka yang melihatnya menangis merasa kasihan dan setelah tangisnya habis dia bertanya pada papanya Hari:
“Emang waktu kecil si Hari pernah sakit paman?” Tanya Mona dalam isakannya
“Ya benar waktu kecil si Hari memang sakit yang nyawa hampir saja melayang.”
“Dan Emangnya pernah si Hari bekerja di perusahaan kayu dan mendapat penyakit usus buntu apa itu benar paman?” dalam isakan tangisnya
“Itu memang benar Hari bekerja di perusahaan Kayu dulunya dalam keadaan dikontrak selama dua bulan habis kontraknya lalu dia nyambung dua bulan lagi dan menyelang habis kontrak yang kedua dia mendapat penyakit usus buntu malah lebih sakitnya lagi teman-temannya dan semua orang perusahaan itu malah menganggap si Hari sudah berhenti” jelas papanya Hari.
        Tetapi beberapa saat itu tiba-tiba papa Hari bertanya pada Mona tentang beberapa hal :
        “Oh, ya Mona apa si Hari pernah melakukan kesalahan padamu dan keluargamu? Kalau ada tolong beri dia maaf ya agar dia bisa menghadapi azab siksa di dalam kubur ya.” Kata papanya Hari
        “Sebenarnya si Hari tidak pernah melakukan kesalahan pada saya dan keluarga saya tetapi saya telah berdosa kepada si Hari sebab Hari itu mencintai aku tetapi aku menolaknya dengan mencaci makinya tetapi sebulan yang lalu aku pernah datang ke tokonya meminta penjelasannya tetapi dia malah tidak mengakuinya tetapi setelah kepergiannya aku menyesalinya. Aku telah berdosa paman.” Kata Mona isakkan tanggisnya.
         “Sudahlah Mona, tak perlu di sesali yang berlalu biarlah berlalu tabah dengan apa yang terjadi ya. Dan paman mau tanya pada kamu boleh nggak?”
         “Boleh, apa itu?” tanya Mona
         “Apa kamu juga mencintai si Hari?”
         “Dulunya sih aku menjadi benci sama si Hari sebab suka mempercanda guraukan aku tetapi setelah kepergian aku menjadi menyesal sekali”
         “Sudahlah… tabahkan hatimu, kalau begitu mari kita pergi ke kuburannya si Hari.”
        Lalu mereka sama-sama pergi ke kuburannya si Hari. Di satu sisi dia mersa sakit hati kepada dirinya sendiri mengapa dia tak mau menerima laki-laki itu dan disisi lain dia merasa kasihan terhadap laki-laki yang selama ini mencintainya tetapi malah tidak tahu menahu tentang itu. Setelah sampai di kuburan lalu mereka mendoakan orang mereka cintai yang telah meninggal.
“Selamat jalan, Hari. Semoga kau bahagia di akhirat, aku selalu menjaga dan mematuh amanah yang engkau berikan kepadaku.” Katanya dari dalam hati.
        Setelah itu mereka pulang dengan hati yang merasa kasihan dan iba. Setelah sampai di rumah lalu papanya si Hari, berkata :
“Ini adalah pesan dari Hari yang di titipkan kepada paman untukmu. Supaya toko beserta isinya diberikan kepada Mona dan Mona harus menjaga dengan baik itu adalah jerih payah si Hari selama dia masih hidup. Ini Mona terimalah” kata papa Hari sambil menyerahkan kunci tokomya.
“Tapi Paman…..inikan adalah milik anak paman lalu paman dan keluarga yang berhak atas toko beserta isinya itu.”
“Sudahlah Mona, ini adalah amanah dari Hari untuk mu. Lagian kami tidak gunanya bagi kami. Kami semakin hari semakin tua dan tidak bisa mengelola toko tersebut dan apabila kamu butuh bantuan, kami akan siap membantu kamu dengan senang hati ya Pak?” kata mamanya Hari.
“Ya” jawab papanya Hari.
        Setelah itu dengan senang hati menerima toko beserta isinya dan ia mengelola toko itu dengan sebaik-baiknya sampai saat sekarang toko itu semakin berkembang saja berkat usaha Mona selama ini.
***
                                        Untuk wanita yang s’lama ini aku cintai
dari lubuk hatiku yang paling dalam.
Maafkan aku selama ini aku tidak bisa
mengungkapkan perasaanku padamu.
Semoga kamu bahagia dengan hari-harimu
From : orang yang memendam
perasaanya kepadamu

Categories: Uncategorized
  1. born88
    PM+00:00R01 14,2008 at 2:26

    cinta tumbuh diujung duka tapi gw capek bacanya/
    ☺☺☺☻♦♣

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: