Home > Uncategorized > Free Sex Remaja Bandung Mengkhawatirkan

Free Sex Remaja Bandung Mengkhawatirkan

Bandung:Kehidupan seks bebas (free sex) di kalangan remaja Bandung makin mengkhawatirkan. Hal itu tergambar dari terus meningkatnya data tentang hubungan seks pranikah yang masuk ke lembaga konseling Mitra Citra Remaja (MCR)-PKBI Jawa Barat. Jika pada 2002 tercatat hanya ada 104 kasus, setahun berikutnya melonjak menjadi 170 kasus. Diyakini, angka itu tidak mencerminkan kasus yang sebenarnya. Ibarat fenomena gunung es, kenyataan di lapangan bisa lebih besar lagi.

Sulit dipungkiri, angka-angka itu sangat mengkhawatirkan, kata Fahmi Arizal, koordinator senior MCR, kepada Tempo News Room, di Bandung, Sabtu
(12/6). Ditemui usai berbicara dalam seminar bertajuk Mahasiswa = Seks Bebas di kampus Politeknik Negeri Bandung. Menyinggung tentang lokasi favorit untuk melakukan kegiatan terlarang bersama pacar itu, Fahmi
menyebut, paling sering dilakukan di tempat kos atau di rumah.

Ada sejumlah alasan kenapa remaja Bandung melakukan kegiatan seksual pranikah. Alasan responden diklasifikasikan dalam 9 kategori. Hasilnya, upaya menyalurkan dorongan seks menduduki peringkat pertama di balik hubungan seksual pranikah, yakni 57,89%. Setelah itu, disusul alasan sebagai tanda ungkapan cinta (38,42%), terpaksa atau dipaksa pacar (27,37%), dan biar dianggap modern (20,53%).

Alasan hubungan seksual pranikah sebagai cara menguji kemampuan seksual, dan alasan untuk mendapatkan imbalan mendapat persentase yang sama, yakni 10%. Hasil yang sama didapat untuk alasan cara menguji keperjakaan atau keperawanan pasangan, serta alasan sebagai cara mengatasi stress, yakni 6,32%.

Mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya hubungan seksual pranikah, survei MCR-PKBI Jabar membagi dalam 8 faktor. Berdasar jawaban yang masuk, faktor sulit mengendalikan dorongan seksual menduduki peringkat
tertinggi, yakni 63,68%. Selanjutnya, faktor kurang taat menjalankan agama (55,79%), rangsangan seksual (52,63%), sering nonton blue film (49,47%), dan tak ada bimbingan orangtua (9,47%). Tiga faktor terakhir yang turut
menyumbang hubungan seksual pranikah adalah pengaruh tren (24,74%), tekanan dari lingkungan (18,42%), dan masalah ekonomi (12,11).

Ironisnya, menuruf Fahmi, di balik angka-angka yang makin mengkhawatirkan itu, sejumlah pihak yang mustinya peduli lebih senang bekerja sendiri-
sendiri. Sikap ego seperti itu muncul tak hanya di kalangan pemerintah daerah, tapi juga di kalangan lembaga swadaya masyarakat.

Untuk itu, agar kecenderungan tak sehat itu bisa ditekan, MCR-PKBI Jawa Barat berharap semua
pihak bisa bekerjasama. “Semuanya perlu meningkatkan kepedulian terhadap masalah ini,” katanya.

Categories: Uncategorized
  1. hahajhi
    AM+00:00R01 14,2008 at 2:26

    hhhhhhhhhhhhhhhhhhh

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: